Sentul - Ahli bedah tulang, Idrus Paturusi, mengatakan saat ia masih bersekolah di fakultas kedokteran pada 1979, menjahit hasil bedah masih menggunakan benang layangan. " Benang layangan itu tentu disterilkan dahulu dengan direbus, " katanya, saat peresmian pabrik benang bedah nasional pertama di Indonesia, PT Triton Manufactures, Sabtu, 19 September 2015, di Sentul, Jawa Barat.
Seperti waktu menjahit pakaian, beberapa dokter bedah juga memakai jarum jahit untuk bedah. Benang layangan bakal dimasukkan di lubang jarum yang pada awal mulanya juga disterilkan dengan di rebus. Lantas sesudah sisa operasi dijahit, sebagian lama lalu benang itu bakal dikeluarkan kembali.
Resiko memakai alat kesehatan tradisional itu cukup tinggi. Walaupun telah di rebus untuk disterilkan, kata Idrus, tidak tidak sering ada pasien yang alami infeksi lantaran benang yang disterilkan cuma sisi luar saja. " Kadang-kadang tak bersih sampai dibagian inti benang, " tuturnya.
Resiko lain memakai alat kesehatan seperti itu juga sisa operasi bakal sangatlah tampak di badan pasien. Hal semacam ini dikarenakan ujung jarum, yang berkenaan dengan benang lubangnya semakin besar dibanding ujung jarum untuk menusuk jahitan.
Tehnologi selalu berkembang. Ada benang yang terbuat dari usus kucing. Benang itu dapat tertanam serta menyatu didalam badan sesudah sekian waktu. Sayang bahannya cukup mahal waktu itu.
Lantas seputar 1980-an, benang impor juga mulai masuk ke Indonesia. " Benang impor itu juga mahal sekali harga nya, " kata Idrus. Ia juga sebagai mahasiswa kesusahan berpraktek karena tak memperoleh benang bedah impor itu.
Sekarang ini, benang makin banyak bentuk serta bahan dasarnya. Ada yang memiliki ukuran besar, tengah, atau kecil. " Yang ukuran kecil umumnya untuk operasi plastik, " tuturnya. Hal semacam ini supaya tak tampak sisa jahitan operasinya.
Telah banyak juga benang bedah yg tidak butuh dilepaskan kembali serta dapat menyatu dengan kulit. Banyak juga perusahaan yang telah mengaitkan jarum serta benangnya, hingga tak ada lubang yang semakin besar dibagian ujung jarum belakang. " Tentu sekarang ini alat bedah itu sekali gunakan. Tak perlu di rebus untuk dipakai kembali seperti dulu, " tuturnya.
Tehnologi yang makin maju ini juga sayangnya belum banyak di produksi dalam negeri. Baru perusahaan Triton Manufacture yang menghasilkan benang bedah dalam negeri. Bekasnya Indonesia masih tetap mengimpor dari beragam negara, terlebih Jerman. " Walau sebenarnya dengan menghasilkan dengan cara nasional, harga nya dapat tambah lebih murah, " tuturnya. Harga yang murah dengan kualitas baik, tentu bisa berakibat pada kebutuhan alat kesehatan para dokter.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

0 comments:
Post a Comment