JAKARTA - Nilai tukar Rupiah kembali melemah pagi ini, dikarenakan sentimen data-data positif di Amerika Serikat (AS) membuat dolar AS jadi tambah jumawa. Hal tersebut pasar semakin optimistis bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuannya.
Analis dari PT BNI Securities, Heru Irvansyah, menyampaikan data-data positif itu bikin beberapa investor menarik dolar AS dari beragam tempat, satu diantaranya yaitu Indonesia juga sebagai pasar negara berkembang.
" Lantaran sampai kini gerakan Rupiah itu ditopang dari hot money, capital inflow. Karena itu saat dana mulai keluar jadi Rupiah semakin melemah, " kata dia di acara iBCM, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
Menurut dia, paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu terakhir, baru beresiko dalam periode panjang. " Itu juga bila pemerintah prinsip serta berkelanjutan dengan kebijakan itu, " terang dia.
Dia menilainya, sekarang ini yang dapat menahan Rupiah dari pelemahan terus-menerus cuma Bank Indonesia (BI), yang mengatur suplai and permintaan dolar AS dari pasar. Dia memberikan, kebijakan BI itu bakal susah untuk bikin Rupiah menguat karena desakan yang cukup besar.
" Tapi untuk mempertahankan Rupiah cukup efektif, agar tak jatuh lebih dalam. Sementara pemerintah tidak akan bisa membuat kebijakan yang langsung dalam jangka pendek, lantaran domainnya berbeda, " papar dia.
- Blogger Comment
- Facebook Comment
Subscribe to:
Post Comments
(
Atom
)

0 comments:
Post a Comment